Hipertiroidisme adalah kondisi di mana kelenjar tiroid memproduksi hormon tiroid secara berlebihan. Ini dapat menyebabkan berbagai gejala, seperti penurunan berat badan, palpitasi, kecemasan, tremor, dan intoleransi panas. Terdapat beberapa pendekatan farmakoterapi untuk mengelola hipertiroidisme, yang masing-masing memiliki mekanisme aksi, efikasi, dan profil efek samping yang berbeda. Artikel ini akan mengulas strategi farmakoterapi terkini, memfokuskan pada obat antitiroid, beta-blocker, dan intervensi lainnya.

Pendekatan Farmakoterapi untuk Hipertiroidisme:

  1. Obat Antitiroid:
    • Thionamides: Methimazole dan propylthiouracil (PTU) adalah agen pilihan utama. Kedua obat ini menghambat sintesis hormon tiroid.
      • Methimazole lebih disukai karena memiliki durasi aksi yang lebih panjang dan efek samping yang lebih sedikit. Biasanya, ini adalah terapi lini pertama.
      • PTU diindikasikan pada trimester pertama kehamilan karena methimazole terkait dengan risiko teratogenik.
    • Pemantauan: Perlu pemantauan rutin fungsi tiroid dan mencari tanda-tanda agranulositosis, terutama pada bulan-bulan pertama pengobatan.
  2. Beta-Blocker:
    • Propranolol atau beta-blocker non-selektif lainnya dapat mengurangi gejala adrenergik seperti palpitasi, tremor, dan kecemasan.
    • Beta-blocker tidak mempengaruhi produksi hormon tiroid tetapi membantu mengontrol gejala sementara agen antitiroid mengambil efek.
  3. Iodida:
    • Larutan Lugol dan Kalium iodida: Kedua agen ini mengurangi ukuran dan vaskularisasi kelenjar tiroid, menurunkan sekresi hormon tiroid.
    • Biasanya digunakan dalam pengaturan jangka pendek, seperti persiapan untuk tiroidektomi atau dalam manajemen krisis tiroid.
  4. Glukokortikoid:
    • Prednisone atau Dexamethasone: Dapat digunakan dalam kasus hipertiroidisme yang parah, khususnya pada tiroiditis subakut atau thyrotoxicosis factitia. Mereka mengurangi peradangan dan pembengkakan tiroid dan dapat menurunkan konversi T4 ke T3.
  5. Pengobatan Adjuvan:
    • Kolinergik: Seperti pilokarpin, mungkin diresepkan untuk mengelola gejala okular pada penyakit Graves.
  6. Manajemen Jangka Panjang dan Pemantauan:
    • Pilihan pengobatan jangka panjang dapat termasuk terus menggunakan obat antitiroid dalam dosis rendah atau mengejar pilihan definitif seperti radioiodine atau pembedahan.
    • Pemantauan rutin fungsi tiroid penting untuk menghindari hipotiroidisme yang diinduksi oleh obat atau rekurensi hipertiroidisme.

Kesimpulan:
Pengelolaan hipertiroidisme melibatkan penggunaan obat antitiroid sebagai terapi utama, dengan beta-blocker yang menyediakan bantuan simtomatik. Penggunaan iodida dan glukokortikoid dapat berguna dalam situasi tertentu. Pendekatan terapi harus dipersonalisasi berdasarkan etiologi hipertiroidisme, usia pasien, adanya komorbiditas, dan preferensi pasien. Pemantauan tepat waktu dan penyesuaian dosis obat sangat penting untuk mencapai eutiroidisme dan mencegah komplikasi. Dalam beberapa kasus, pengobatan definitif mungkin perlu dipertimbangkan untuk menghindari relaps. Kerjasama antara pasien dan penyedia layanan kesehatan adalah kunci untuk manajemen sukses hipertiroidisme.