Prabowo Menugaskan Jokowi Hadiri Pemakaman Paus Fransiskus di Vatikan

starsunleash – Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, menugaskan mantan Presiden Joko Widodo, atau Jokowi, untuk menghadiri pemakaman Paus Fransiskus di Vatikan pada 24 April 2025. Acara ini mengundang kehadiran berbagai pemimpin dunia yang ingin memberikan penghormatan terakhir kepada Paus Fransiskus.

Paus Fransiskus dikenal luas karena dedikasinya terhadap perdamaian dan inisiatifnya dalam mendekatkan Gereja Katolik dengan masyarakat luas. Kepemimpinannya selama bertahun-tahun membawa perubahan signifikan, menjadikan gereja lebih inklusif dan terbuka terhadap dialog antaragama.

Keputusan Prabowo

Prabowo secara pribadi memilih Jokowi untuk mewakili Indonesia, menunjukkan hubungan baik antara Indonesia dan Vatikan. Selain Jokowi, Prabowo juga mengutus beberapa tokoh penting lainnya, termasuk Wamenkeu Tommy Djiwandono dan Ignatius Jonan, untuk mendampingi perjalanan ini2.

Jokowi dan delegasi Indonesia berangkat menuju Vatikan dengan membawa pesan duka cita dari rakyat Indonesia. Kehadiran mereka di pemakaman Paus Fransiskus menjadi simbol solidaritas dan persahabatan dengan umat Katolik di seluruh dunia.

Keberangkatan Jokowi ini mencerminkan nilai toleransi dan kedamaian yang dijunjung tinggi oleh bangsa Indonesia. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, Indonesia terus berusaha mempromosikan kerukunan antarumat beragama.

Dengan menugaskan Jokowi untuk hadir di pemakaman Paus Fransiskus, Prabowo menegaskan komitmen Indonesia dalam menjaga hubungan baik dengan komunitas internasional. Langkah ini juga menekankan pentingnya dialog lintas agama dalam menciptakan dunia yang damai dan harmonis.

Kesederhanaan yang Abadi: Mengikuti Jejak Paus Fransiskus Hingga Akhir Hayat

starsunleash – Paus Fransiskus telah dikenal luas karena hidupnya yang sederhana dan penuh kerendahan hati, yang membedakannya dari banyak pemimpin dunia lainnya. Sejak awal kepemimpinannya sebagai pemimpin Gereja Katolik, ia menekankan pentingnya kesederhanaan, cinta kasih, dan pelayanan kepada sesama. Nilai-nilai ini tidak hanya tercermin dalam cara ia menjalani kehidupannya sehari-hari, tetapi juga dalam pesan-pesannya kepada umat di seluruh dunia. Hingga akhir hayatnya, Paus Fransiskus tetap setia pada prinsip-prinsip ini, meninggalkan warisan yang menginspirasi jutaan orang.

Sejak terpilih sebagai Paus pada tahun 2013, Paus Fransiskus membawa angin segar ke Vatikan. Ia memilih nama Fransiskus sebagai penghormatan kepada Santo Fransiskus dari Assisi, yang dikenal karena hidup dalam kemiskinan dan dedikasi kepada kaum miskin. Pilihan ini langsung menggambarkan visi dan misi yang ingin ia emban: membawa kembali fokus Gereja kepada pelayanan dan kesederhanaan.

Paus Fransiskus mengejutkan banyak orang dengan keputusan-keputusannya yang tidak biasa. Ia menolak tinggal di Istana Apostolik yang megah, memilih tinggal di rumah tamu Vatikan yang lebih sederhana. Ia juga lebih memilih transportasi umum daripada kendaraan mewah untuk bepergian, menunjukkan komitmennya terhadap gaya hidup yang rendah hati.

Kehidupan Sehari-hari yang Sederhana

Kesederhanaan Paus Fransiskus terlihat dalam setiap aspek kehidupannya. Dalam kesehariannya, ia menjalani rutinitas yang sederhana dan tidak berlebihan. Ia sering kali mengundang orang-orang dari berbagai latar belakang, termasuk kaum miskin dan terpinggirkan, untuk makan bersama di meja makannya. Tindakan ini mencerminkan ajarannya tentang pentingnya keterbukaan dan inklusivitas.

Selain itu, Paus Fransiskus selalu mendorong para pemimpin gerejanya untuk meninggalkan kemewahan dan lebih mendekatkan diri kepada umat. Ia menekankan bahwa gereja harus menjadi tempat yang ramah dan penuh kasih bagi semua orang, terutama mereka yang membutuhkan.

Paus Fransiskus dikenal karena pesannya yang kuat mengenai keadilan sosial dan lingkungan. Ia mengeluarkan ensiklik “Laudato Si’” yang menyoroti pentingnya menjaga bumi sebagai rumah bersama dan mengajak semua orang untuk bertindak melawan perubahan iklim. Pesan ini menegaskan bahwa kesederhanaan bukan hanya masalah pribadi, tetapi juga tanggung jawab sosial.

Dalam banyak homilinya, Paus Fransiskus mengajak umat untuk hidup dalam kedamaian, kasih, dan solidaritas. Ia menekankan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada materi, tetapi pada pelayanan dan cinta kepada sesama.

Hingga akhir hayatnya, Paus Fransiskus tetap konsisten dengan nilai-nilai yang ia anut. Kesederhanaan dan kerendahan hati yang ia tunjukkan meninggalkan jejak yang mendalam dalam hati banyak orang. Warisannya menginspirasi pemimpin agama dan umat di seluruh dunia untuk hidup dengan lebih sederhana dan bermakna.

Dalam dunia yang sering kali terobsesi dengan materialisme dan kekuasaan, Paus Fransiskus mengingatkan kita tentang kekuatan kesederhanaan dan cinta. Ia menunjukkan bahwa melalui tindakan kecil yang tulus, kita dapat membuat perubahan besar dalam hidup orang lain.

Paus Fransiskus mengajarkan kita bahwa kesederhanaan adalah jalan menuju kedamaian dan kebahagiaan sejati. Hingga akhir hayatnya, ia tetap teguh pada prinsip-prinsipnya, meninggalkan warisan yang abadi. Semoga kita semua terinspirasi untuk mengikuti jejaknya dalam menjalani hidup yang lebih sederhana dan penuh kasih, demi kebaikan bersama.

Paus Fransiskus Berduka atas Insiden Maut Truk Tabrak Kerumunan di AS

starsunleash.com – Paus Fransiskus menyampaikan belasungkawa atas serangan truk pikap yang menabrak kerumunan di New Orleans, Amerika Serikat, yang menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai banyak lainnya. Pesan ini disampaikan melalui sebuah catatan resmi dari Vatikan, menegaskan bahwa Paus “berdoa untuk kesembuhan dan penghiburan bagi mereka yang terluka dan berduka”.

Insiden tragis ini terjadi pada dini hari tanggal 1 Januari 2025 di French Quarter, New Orleans, sebuah area yang ramai dengan perayaan Tahun Baru. Seorang pengemudi truk, yang diidentifikasi sebagai Shamsud-Din Jabbar, seorang veteran berusia 42 tahun dari Angkatan Darat AS, dengan sengaja menabrakkan kendaraannya ke kerumunan yang sedang merayakan Tahun Baru. Setelah menabrak, Jabbar keluar dari kendaraan dan melepaskan tembakan ke arah para pengunjung dan petugas penyelamat sebelum akhirnya ditembak mati oleh polisi.

Serangan ini menewaskan 15 orang dan melukai sedikitnya 35 orang. Otoritas setempat dan agensi federal sedang melakukan penyelidikan mendalam untuk menentukan apakah Jabbar bertindak sendiri atau ada kaki tangan lain yang terlibat. Investigasi juga sedang dilakukan untuk menentukan motif di balik serangan ini, yang diduga terkait dengan ideologi ekstremis.

Paus Fransiskus mengirimkan pesan belasungkawa kepada Uskup Agung New Orleans, Gregory Aymond, yang menyatakan bahwa beliau “sangat sedih mengetahui hilangnya nyawa dan cedera yang disebabkan oleh serangan itu.” Paus juga berdoa untuk kesembuhan dan penghiburan bagi yang terluka dan berduka, serta menyerukan solidaritas dalam menghadapi tragedi ini.

Insiden ini telah mengundang kecaman dari berbagai pemimpin dunia dan masyarakat setempat. Presiden Joe Biden menyebut serangan ini sebagai “tindakan keji” dan menegaskan bahwa FBI sedang menyelidiki insiden ini sebagai tindakan terorisme. Para pemimpin komunitas dan agama di New Orleans juga mengutuk serangan ini dan menyerukan kesatuan dalam menghadapi terorisme.

Insiden tragis ini mengingatkan kita akan pentingnya kewaspadaan dan kesatuan dalam menghadapi ancaman terorisme. Paus Fransiskus, melalui pesan belasungkawa dan doanya, menunjukkan kepedulian dan dukungan spiritual kepada para korban dan keluarga yang ditinggalkan. Semoga dengan solidaritas dan doa, kita dapat mengatasi tragedi ini dan mencegah kejadian serupa di masa depan.

Paus Fransiskus Desak Pembebasan Aung San Suu Kyi, Sodorkan Vatikan Sebagai Suaka

starsunleash.com – Paus Fransiskus kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap isu-isu kemanusiaan global dengan menyerukan pembebasan Aung San Suu Kyi, pemimpin de facto Myanmar yang saat ini ditahan oleh rezim militer. Dalam sebuah pernyataan yang mengejutkan banyak pihak, Paus juga menawarkan Vatikan sebagai tempat tinggal bagi Suu Kyi jika ia dibebaskan. Langkah ini menegaskan peran aktif Vatikan dalam mendukung perdamaian dan hak asasi manusia di seluruh dunia.

Aung San Suu Kyi, peraih Nobel Perdamaian, telah menjadi simbol perjuangan demokrasi di Myanmar. Setelah kudeta militer pada Februari 2021, Suu Kyi ditahan di bawah tuduhan yang dianggap bermotif politik oleh banyak pengamat internasional. Penahanannya memicu protes dan kecaman global, sementara situasi politik di Myanmar terus memburuk dengan meningkatnya kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia.

Sejak penahanannya, berbagai organisasi internasional dan negara-negara telah menyerukan pembebasan Suu Kyi dan pemulihan demokrasi di Myanmar. Namun, hingga kini, tuntutan tersebut belum diindahkan oleh rezim militer yang berkuasa.

Dalam sebuah pernyataan resmi, Paus Fransiskus mengungkapkan keprihatinannya terhadap situasi di Myanmar dan meminta pembebasan segera Aung San Suu Kyi. Paus menekankan pentingnya dialog dan rekonsiliasi untuk mencapai perdamaian dan stabilitas di negara tersebut. Sebagai bentuk dukungan konkret, Paus menawarkan Vatikan sebagai tempat tinggal bagi Suu Kyi, yang dapat menjadi simbol perlindungan internasional bagi para pejuang demokrasi.

Tawaran ini menunjukkan komitmen Vatikan untuk memainkan peran aktif dalam mendukung kebebasan dan hak asasi manusia. Paus Fransiskus, yang dikenal dengan pendekatan humanisnya, sering kali terlibat dalam isu-isu global yang melibatkan ketidakadilan dan penindasan.

Pernyataan Paus Fransiskus mendapat sambutan positif dari berbagai negara dan organisasi internasional. Banyak yang memuji keberanian Paus dalam mengambil sikap yang jelas terhadap situasi di Myanmar dan mendukung pembebasan Aung San Suu Kyi. Langkah ini juga diharapkan dapat meningkatkan tekanan internasional terhadap rezim militer Myanmar untuk mempertimbangkan kembali tindakan mereka.

Para analis politik melihat tawaran ini sebagai langkah strategis yang dapat membuka peluang dialog antara Vatikan dan pemerintah Myanmar. Dengan reputasinya sebagai mediator netral, Vatikan dapat memainkan peran penting dalam memfasilitasi negosiasi damai di masa depan.

Meskipun dukungan internasional terhadap pembebasan Aung San Suu Kyi semakin kuat, tantangan di lapangan tetap besar. Rezim militer Myanmar masih menunjukkan keteguhan dalam mempertahankan kekuasaan mereka, sementara situasi keamanan di negara tersebut terus memburuk. Namun, dengan terus meningkatnya tekanan diplomatik dan perhatian global, ada harapan bahwa perubahan positif dapat terjadi.

Pembebasan Aung San Suu Kyi tidak hanya penting bagi masa depan demokrasi di Myanmar, tetapi juga dapat menjadi simbol kemenangan bagi gerakan hak asasi manusia di seluruh dunia. Dukungan dan solidaritas internasional, seperti yang ditunjukkan oleh Paus Fransiskus dan Vatikan, memainkan peran krusial dalam memperkuat harapan tersebut.

Seruan Paus Fransiskus untuk pembebasan Aung San Suu Kyi dan tawaran Vatikan sebagai tempat tinggalnya menyoroti pentingnya solidaritas dan dukungan global dalam menghadapi ketidakadilan. Langkah ini tidak hanya memperkuat posisi Vatikan sebagai advokat perdamaian, tetapi juga mendorong komunitas internasional untuk terus berjuang demi hak asasi manusia dan demokrasi di Myanmar dan di seluruh dunia.

Paus Fransiskus Sebut RI-Timor Leste Rujuk, Blak-blakan Bilang Begini

starsunleash.com – Paus Fransiskus, pemimpin Gereja Katolik Roma yang dikenal dengan gaya kepemimpinan yang blak-blakan dan diplomatis, baru-baru ini membuat pernyataan yang menarik perhatian mengenai hubungan antara Indonesia dan Timor Leste. Dalam sebuah pernyataan resmi, Paus Fransiskus menyebutkan bahwa kedua negara tersebut telah melakukan pendekatan yang positif dan mengarah pada rekonsiliasi. Pernyataan ini tidak hanya mencerminkan hubungan diplomatik yang semakin baik tetapi juga memberikan perspektif baru tentang bagaimana konflik dan perseteruan internasional dapat diselesaikan melalui dialog dan pemahaman. Artikel ini akan membahas detail pernyataan Paus Fransiskus, konteks hubungan RI-Timor Leste, dan dampak potensial dari rekonsiliasi ini.

Dalam pernyataannya, Paus Fransiskus mengungkapkan bahwa hubungan antara Indonesia dan Timor Leste menunjukkan kemajuan yang signifikan. Beliau memuji kedua negara atas upaya mereka dalam membangun kembali hubungan diplomatik dan mengatasi berbagai tantangan yang ada. Paus Fransiskus menyatakan bahwa pendekatan yang dilakukan oleh kedua negara menunjukkan komitmen mereka terhadap perdamaian dan rekonsiliasi.

Paus Fransiskus dikenal dengan pendekatannya yang langsung dan keterbukaannya dalam mengatasi isu-isu global. Kepemimpinannya sering kali mencerminkan dorongan untuk dialog dan kerjasama internasional, serta pemahaman antarbangsa.

Hubungan antara Indonesia dan Timor Leste memiliki sejarah yang kompleks. Timor Leste, yang pernah menjadi bagian dari Indonesia sebelum merdeka pada tahun 2002, mengalami periode konflik yang intens selama pendudukan Indonesia. Proses kemerdekaan Timor Leste melibatkan berbagai tantangan, termasuk kekerasan dan ketegangan politik.

Sejak kemerdekaan, Indonesia dan Timor Leste telah bekerja untuk memperbaiki hubungan mereka. Upaya rekonsiliasi termasuk dialog diplomatik, kerjasama bilateral, dan bantuan internasional. Beberapa inisiatif penting telah dilakukan untuk memperbaiki hubungan dan memperkuat kerja sama di berbagai bidang.

Pernyataan Paus Fransiskus mengenai hubungan Indonesia-Timor Leste dapat memperkuat diplomasi antara kedua negara. Pengakuan dari pemimpin internasional seperti Paus Fransiskus dapat memberikan dorongan tambahan bagi kedua negara untuk melanjutkan upaya rekonsiliasi dan kerjasama.

Pengakuan dan dukungan dari Paus Fransiskus mungkin mempengaruhi hubungan bilateral dengan cara yang positif. Ini dapat mendorong kedua negara untuk meningkatkan komunikasi dan kerjasama dalam berbagai isu, termasuk perdagangan, keamanan, dan pembangunan.

Indonesia dan Timor Leste telah meluncurkan beberapa program bilateral untuk meningkatkan hubungan mereka. Program-program ini termasuk kerjasama dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan budaya. Upaya ini bertujuan untuk membangun jembatan antara kedua negara dan meningkatkan pemahaman serta kolaborasi.

Komunitas internasional, termasuk organisasi-organisasi seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, juga telah memberikan dukungan untuk rekonsiliasi antara Indonesia dan Timor Leste. Dukungan ini mencakup bantuan teknis, mediasi, dan inisiatif pembangunan.

Pemerintah Indonesia menyambut baik pernyataan Paus Fransiskus dan melihatnya sebagai pengakuan positif terhadap upaya rekonsiliasi yang telah dilakukan. Indonesia berharap pernyataan ini dapat memperkuat hubungan diplomatik dan membuka lebih banyak peluang untuk kerjasama di masa depan.

Pemerintah Timor Leste juga merespons positif terhadap pernyataan Paus Fransiskus. Mereka melihat pengakuan ini sebagai dorongan tambahan untuk melanjutkan upaya membangun hubungan yang lebih baik dengan Indonesia.

Pernyataan Paus Fransiskus mengenai hubungan antara Indonesia dan Timor Leste merupakan momen penting dalam proses rekonsiliasi dan diplomasi antara kedua negara. Dukungan dan pengakuan dari pemimpin internasional seperti Paus Fransiskus memberikan dorongan tambahan bagi Indonesia dan Timor Leste untuk terus bekerja sama dalam membangun hubungan yang lebih baik.

Upaya rekonsiliasi dan kerjasama antara Indonesia dan Timor Leste adalah contoh bagaimana dialog dan pemahaman dapat mengatasi konflik dan membangun hubungan yang harmonis. Dengan dukungan dari komunitas internasional dan komitmen dari kedua negara, diharapkan hubungan ini akan terus berkembang dan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak serta stabilitas regional secara keseluruhan.

Pernyataan Kontroversial Paus Fransiskus Tentang Gaza Dalam Sorotan

starsunleash.com – Dalam pertemuan yang diadakan dengan delegasi warga Palestina, Paus Fransiskus dilaporkan menggunakan istilah yang berat untuk mendeskripsikan keadaan di Gaza. Shireen Awwad Hilal dari Bethlehem Bible College menyampaikan bahwa pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu mengakui penderitaan mereka dengan menggambarkannya sebagai “genosida”. Laporan ini dipublikasikan oleh Middle East Eye, menambah dimensi signifikan pada diskusi internasional mengenai konflik tersebut.

Kesaksian dan Reaksi dari Vatikan

Hilal menegaskan bahwa Paus Fransiskus secara spontan menggunakan istilah “genosida” setelah mendengar cerita dari para delegasi tentang kondisi keluarga mereka di Gaza. Di sisi lain, Matteo Bruni, juru bicara Vatikan, tampaknya memberikan konfirmasi yang kurang pasti, mengklaim tidak ada kesadaran tentang penggunaan kata tersebut oleh Paus. Bruni menambahkan bahwa Paus umumnya menyampaikan pesan-pesan yang sesuai dengan apa yang telah disampaikan dalam audiensi publik dan yang merefleksikan situasi yang dihadapi Gaza saat ini.

Latar Belakang Konflik Israel-Palestina

Situasi yang dibahas adalah bagian dari serangan yang dimulai oleh Israel terhadap Palestina sejak 7 Oktober, termasuk deklarasi perang terhadap Hamas. Serangan-serangan tersebut telah mencakup target-target sipil, termasuk fasilitas kesehatan, yang meningkatkan urgensi bagi resolusi konflik.

Menuju Gencatan Senjata

Dalam perkembangan terbaru, Israel dan Hamas telah mencapai kesepakatan untuk gencatan senjata yang diharapkan akan diberlakukan dalam kurun waktu 24 jam. Kesepakatan ini adalah langkah penting menuju pengurangan kekerasan dan, yang diharapkan, pergerakan menuju perdamaian dan pemulihan bagi warga yang terdampak.

Paus Fransiskus Serukan Perdamaian Perang Palestina Di Misa Natal

STARUNLEASH – Diketahui, Paus Fransiskus, SJ, yang bernama lahir Jorge Mario Bergoglio, adalah Paus Gereja Katolik ke-266 yang terpilih pada hari kedua Konklaf Kepausan 2013 pada tanggal 13 Maret 2013. Sebelumnya, dirinya adalah Uskup Agung dari Buenos Aires, Argentina.

Paus Fransiskus menemukan panggilannya untuk menjadi imam ketika dia sedang dalam perjalanan untuk merayakan Hari Musim Semi. Dirinya melewati sebuah gereja untuk mengaku dosa yang diilhami oleh seorang pastor. Fransiskus berlajar di seminari keuskupan agung, dan saat ini berhasil menjadi seorang paus dari seluruh umat Katolik di dunia.

Menurut kitab Hukum Kanonik, seorang laki-laki yang telah dibaptis yang sah dinobatkan sebagai paus. Dapat disimpulkan bahwa hanya ada dua aturan atau syarat utama menjadi paus, yakni seorang laki-laki dan umat Katolik yang telah dibaptis.

Tugas dari paus diketahui adalah sebagai pemimpin gereja Katolik di seluruh dunia. Pemerintahan dari seorang paus disebut dengan kepausan dan pontifikat. Pada zaman kuno, para paus turut membantu menyebarkan kekristenan dan penyelesaian berbagai permasalahan doktrinal.

Saat ini, tepatnya pada Senin (25/12/2023), Paus Fransiskus memulai perayaan Natal global dengan seruan perdamaian. Hal tersebut disampaikan ketika perang Israel terhadap Hamas dan invasi Rusia terhadap Ukraina membayangi salah satu hari libur favorit dunia.

Paus Fransiskus pada misa Malam Natalnya mengaku memikirkan warga sipil yang menderita akibat perang yang kejam tersebut.

“Memikirkan orang-orang yang menderita akibat perang, kami memikirkan Palestina, Israel, dan Ukraina.” Ucap Paus sembari memberikan nada yang murah dalam misa Malam Natalnya.

“Malam ini, hati kita berada di Betlehem, dimana Pangeran Perdamaian sekali lagi ditolak oleh logika perang yang sia-sia oleh bentrokan senjata yang bahkan hingga saat ini menghalangi dia untuk mendapatkan ruang di dunia.” Lanjutnya.

Kota Bethlehem yang diketahui berada di Tepi Barat yang diduduki oleh tempat umat Kristen percaya bahwa Yesus Kristus dilahirkan di sebuah kandang lebih dari 2.000 tahun yang lalu, secara efektif membatalkan perayaan Natal tahunan yang biasanya menarik ribuan wisatawan.

Kota ini tidak lagi menggunakan pohon Natal raksasa, marching band yang semarak, dan hanya memilih beberapa lampu yang meriah. Di pusat kota juga terlihat bendera Palestina berukuran besar telah dikabarkan dengan spanduk bertuliskan ‘Lonceng Betlehem berbunyi untuk gencatan senjata di Gaza’.

“Banyak orang yant mati demi tanah kelahiran mereka. Sangat sulit untuk merayakannya ketika rakyat kita sedang sekarat. Ucap seorang siswa berusia 18 tahun, Nicole Najjar.

Patriartik Latin Yerusalem, Pierbeattista Pizzaballa, mengatakan bahwa pihaknya tidak hanya berdoa untuk adanya gencatan senjata, tetapi untuk menghentikan permusuhan tersebut.

“Kami disini untuk berdoa dan meminta tidak hanya gencatan senjata, gencatan senjata saja tidak cukup, kami harus menghentikan permusuhan ini dan membalik halaman karena kekerasan hanya akan menghasilkan kekerasan.” Ucap Pizzaballa.

Sementara itu, Suster Nabila Salah dari Gereja Suci Katolik di Gaza menurut Patriarkat Latin Yerusalem, mengatakan kepada AFP ‘semua perayaan natal telah dibatalkan’. Diketahui gereja tersebut merupakan tempat dua wanita Kristen dibunuh oleh penembak jitu Israel pada awal bulan ini.

Serangan dari Hamas pada 7 Oktober sebelumnya diketahui telah menyebabkan 1.140 orang tewas di Israel, sebagian besar dari mereka merupakan warga sipil. Sementara 250 orang disandera militan Palestina, 129 di antaranya, menurut Israel, masih berada di Gaza.

Israel juga telah membalas dengan pengeboman berkelanjutan dan invansi darat ke Gaza. Sebanyak 20.424 orang tewas, sebagian besar perempuan dan anak-anak, menurut jumlah korban terbaru dari kementrian kesehatan yang dikelola Hamas di wilayah tersebut.

Paus Usul Pemberkataan Pasangan Sesama Jenis, Gerja Katolik Di Ukraina Menolak

STARUNLEASH – Pada Senin (18/12/2023), Paus Fransiskus menyetujui pemberkatan pasangan sesama jenis oleh Gereja Katolik. Keputusan ini dianggap sebagai kemajuan yang signifikan bagi komunitas LGBT dalam Gereja Katolik Roma.

Pemimpin Gereja tersebut menyatakan bahwa imam saat ini boleh memberkati pasangan sesama jenis dalam situasi tertentu. Namun, Vatikan menegaskan bahwa pemberkatan tersebut tidak boleh menjadi bagian dari ritual rutin Gereja atau terkait dengan pernikahan sipil.

Kardinal Victor Manuel Fernandes menjelaskan bahwa deklarasi baru tersebut tetap berpegang pada doktrin tradisional Gereja tentang pernikahan. Namun, panduan baru ini mengizinkan para imam memberkati hubungan yang masih dianggap sebagai dosa, sesuai dengan visi paus untuk memperluas ajaran agama sesuai dengan panggilan Gereja Katolik.

Kardinal Manuel menyatakan, “Orang yang menerima berkat tidak harus memiliki kesempurnaan moral sebelumnya.”

Keputusan ini dianggap sebagai langkah maju bagi Gereja Katolik, meskipun bukan perubahan posisi. Sebelumnya, pada tahun 2021, Paus mengatakan bahwa para imam tidak dapat memberkati pernikahan sesama jenis karena Tuhan tidak dapat memberkati dosa. Namun, sekarang Paus telah mengesahkan keputusan ini.

Namun, pada tanggal (24/12/2023), pemimpin Gereja Katolik ritus timur Ukraina menyatakan bahwa keputusan yang diambil Paus Fransiskus tidak berlaku untuk Gereja mereka dan ajaran mereka.

Uskup Agung Sviatoslav Shevchuk menyampaikan, “Keputusan ini hanya berlaku untuk Gereja Katolik ritus latin dan tidak berlaku bagi Gereja Katolik Yunani Ukraina.”

Dia juga menggarisbawahi bahwa berkat tidak dapat dipisahkan dari ajaran Gereja dan tidak bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik mengenai keluarga sebagai ikatan cinta setia dan subur antara seorang pria dan seorang wanita.

Gereja ritus timur mengikuti ritus yang mirip dengan Gereja Ortodoks, tetapi tetap berada dalam persekutuan dengan Roma berdasarkan kesepakatan abad ke-16. Gereja ini mengalami penindasan pada masa Soviet dan saat ini memiliki sekitar 4,5 juta umat atau sekitar 10% dari populasi Ukraina.

Dalam dokumen yang dikeluarkan oleh kantor doktrin Vatikan, para imam Katolik Roma diperbolehkan memberkati pasangan sesama jenis selama itu dilakukan di luar ritual atau liturgi Gereja biasa. Pemberkatan ini akan menjadi tanda bahwa Allah menyambut semua orang, namun tidak boleh disamakan dengan sakramen pernikahan heteroseksual.

Di Ukraina dan negara-negara bekas Soviet lainnya, hak-hak LGBT mengalami kemajuan. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy, menyatakan dukungannya terhadap perlindungan hak-hak LGBT, meskipun tidak ada rencana untuk mengubah konstitusi agar mengakui pernikahan sesama jenis selama negara sedang berperang.