Kontroversi Penculikan Tentara Israel oleh Hamas: Fakta dan Penyangkalan

starsunleash.com – Hamas telah mengumumkan bahwa mereka berhasil menculik tentara Israel selama konfrontasi di Jabalia, Gaza Utara, sebuah klaim yang diungkap oleh Abu Ubaida, juru bicara Brigade Al Qassam. Pernyataan ini dirilis pada hari Minggu, 26 Mei 2024, dan dilaporkan oleh Reuters. Abu Ubaida menjelaskan bahwa penculikan itu terjadi melalui penyergapan yang direncanakan di dalam sebuah terowongan, dimana, menurutnya, “Pejuang kami telah memancing pasukan Zionis.”

Untuk mendukung klaim mereka, Hamas merilis sebuah video yang menunjukkan seseorang berlumuran darah sedang diseret melalui terowongan dan beberapa foto yang menampilkan pasukan yang tampak kelelahan serta beberapa senapan. Namun, keaslian materi video tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen oleh Reuters.

Di sisi lain, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dengan tegas membantah klaim penculikan tersebut. IDF mengeluarkan pernyataan resmi menegaskan bahwa tidak ada tentara yang diculik, seperti yang diklaim oleh Hamas. “IDF mengklarifikasi tidak ada insiden yang menyebabkan seorang tentara diculik,” tegas pernyataan tersebut.

Ditambahkan pula, terdapat perkembangan terkait perundingan gencatan senjata di Gaza. Sumber yang terlibat dalam negosiasi menyatakan bahwa pembicaraan akan dilanjutkan pekan depan dengan dukungan dari mediator internasional termasuk Mesir dan Qatar, serta keterlibatan aktif dari Amerika Serikat. Namun, seorang pejabat Hamas membantah bahwa pembicaraan akan berlanjut di Kairo pada hari Selasa, 28 Mei 2024, menyatakan bahwa belum ada kesepakatan mengenai tanggal yang pasti untuk pertemuan tersebut.

Serangan Israel Targetkan Jurnalis di Jalur Gaza, Korban Dibiarkan Mati Kehabisan Darah

STARSUNLEASH – Dilaporkan pada Jumat (15/12/2023) bahwa serangan Israel di Jalur Gaza terhadap Palestina telah membunuh seorang jurnalis Al Jazeera bernama Samer Abu Daqqa dan melukai seorang rekannya.

“Setelah Samer terluka, dia dibiarkan mati kehabisan darah selama lebih dari 5 jam, karena pasukan Israel mencegah ambulans dan petugas penyelamat datang untuk menjangkaunya. Hal itu membuat perawatan darurat tidak bisa diberikan kepada Samer.” Tulis Berita Al Jaezeera.

Menurut laporan Al Jazeera, juru kamera Samer Abu Daqqa dan kepala biro Gaza, Wael Al-Dahdouh, terluka di sebuah sekolah di Khan Yunis setelah terkena pecahan peluru dari serangan rudal Israel. Amer mengalami luka parah dan kehabisan darah di tempat kejadian, sementara Wael menderita luka di lengannya dan dibawa ke Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis.

Sebelumnya, Wael telah meminta bantuan untuk membantu Samer. Namun, ketika dia mencapai ambulans, para petugas medis memberi tahu dia bahwa mereka tidak dapat pergi ke lokasi karena terlalu berbahaya dan tidak diizinkan oleh militer Israel.

Saat ini, Al Jazeera telah mengajukan tuntutan kepada Israel atas serangan sistematis dan pembunuhan jurnalis dan keluarga mereka.

“Kami mencekam aksi yang dilakukan oleh Israel terhadap jurnalis kami. Mereka bukanlah terroris, mereka bekerja sebagai pembuat informasi untuk dunia. Kami pasti akan menuntut Israel untuk bertanggung jawab terhadap aksi yang mereka lakukan tersebut.” Lanjut Berita Al Jaezeera.

Meskipun demikian, kelompok milisi Hamas menyatakan bahwa serangan pertama ditujukan pada sekolah milik badan PBB untuk pengungsi Palestina di Khan Yunis, dan serangan kedua kemudian ditujukan pada para jurnalis, yang dianggap Hamas sebagai bentuk intimidasi agar mereka tidak mencatat pembantaian Israel yang terjadi di Jalur Gaza.

“Mereka melakukan hal tersebut kepada para jurnalis dan reporter agar tidak menyebarkan foto ataupun video dari aksi penindasan dan kebiadaban yang mereka lakukan terhadap warga Palestina.” Cetus Hamas.

Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) juga mengatakan, bahwa sejak perang antara Hamas dan Israel dimulai pada 7 Oktober lalu, kurang lebih 60 jurnalis dan karyawan media telah tewas di Gaza. Komite tersebut juga menekankan pentingnya melindungi nyawa jurnalis yang tinggal dan bekerja di Gaza.

“Jurnalis di seluruh kawasan melakukan pengorbanan besar untuk meliput konflik yang memilukan ini. Semua pihak harus mengambil langkah untuk memastikan keselamatan mereka.” Ucap Koordinator CPJ Timur Tengah dan Afrika Utara, Sherif Mansour.